MMB SUMENEP - Paguyuban Pengusaha Rokok Kabupaten Sumenep melalui Syafwan Wahyudi (Haji Udik), mengimbau seluruh pelaku usaha rokok untuk lakukan penyerapan tembakau hasil produksi petani lokal. Selain itu, Ia berharap Petani diharapkan dapat memperhatikan tingkat kematangan daun dan tidak memanen tembakau terlalu dini atau ketika daun masih muda. Sabtu (25/6/2026)
Paguyuban Pengusaha Rokok (PPR) Sumenep, Syafwan Wahyudi mengatakan, hal ini penting disampaikan sebagai bentuk keberpihakan terhadap keberlangsungan ekonomi petani sekaligus menjaga kesinambungan mata rantai industri tembakau di daerah.
"Seiring memasuki momentum musim panen tembakau, tentu petani berharap hasil produksi mereka dapat terserap dengan harga yang layak dan memberikan keuntungan yang sebanding dengan biaya serta risiko yang telah dikeluarkan selama proses penanaman tembakau," ujarnya.
Menurutnya, keberadaan petani tembakau dan industri rokok memiliki hubungan yang saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan.
"Petani membutuhkan kepastian pasar untuk hasil panennya, sementara perusahaan rokok membutuhkan pasokan bahan baku tembakau untuk menjaga keberlangsungan produksi," terangnya.
Karena itu, para pengusaha rokok diharapkan tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan bahan baku, tetapi juga turut berkontribusi dalam menjaga keberlangsungan sektor pertanian tembakau ditingkat lokal.
"Harapan kami, pengusaha rokok dapat memprioritaskan penyerapan tembakau petani lokal. Ini merupakan bagian dari upaya bersama untuk menjaga roda perekonomian masyarakat agar tetap bergerak," tegasnya.
Lanjut Ia menegaskan, sinergi antara petani, pengusaha rokok dan pemerintah sangat dibutuhkan untuk menciptakan ekosistem pertembakauan yang sehat, berkelanjutan dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.
"Dengan adanya penyerapan tembakau lokal, manfaat ekonomi dari sektor tersebut diharapkan dapat dirasakan secara lebih luas oleh masyarakat, khususnya masyarakat Sumenep," imbunya.
Selain meningkatkan penyerapan tembakau lokal, pria yang akrab disapa Haji Udik tersebut, juga mendorong para pengusaha rokok untuk membangun komunikasi yang baik dengan petani maupun kelompok tani.
Komunikasi tersebut dinilai penting dalam menentukan kebutuhan bahan baku, standar kualitas, hingga mekanisme penyerapan tembakau. Dengan komunikasi dan kerja sama yang baik, proses perdagangan tembakau diharapkan dapat berlangsung secara transparan dan adil, sekaligus memberikan kepastian bagi petani maupun pelaku usaha rokok.
Di sisi lain, Paguyuban Pengusaha Rokok Sumenep juga mendorong petani untuk terus meningkatkan kualitas hasil produksi. Petani diharapkan dapat memperhatikan tingkat kematangan daun dan tidak memanen tembakau terlalu dini atau ketika daun masih muda.
Menurut Haji Udik, kualitas tembakau yang sesuai dengan kebutuhan industri akan meningkatkan daya tawar petani sekaligus memperkuat daya saing produk tembakau lokal.
"Petani dan pengusaha rokok merupakan bagian dari satu mata rantai yang tidak dapat dipisahkan. Ketika petani sejahtera, industri juga akan tumbuh secara berkelanjutan. Karena itu, dibutuhkan komitmen bersama untuk menjaga keseimbangan antara kualitas, harga dan keberlanjutan usaha," tuturnya.
Haji Udik berharap kolaborasi antara petani, pengusaha rokok dan pemerintah dapat terus diperkuat sehingga sektor tembakau tetap menjadi salah satu penggerak perekonomian masyarakat, khususnya di Kabupaten Sumenep yang selama ini menjadikan tembakau sebagai salah satu komoditas pertanian unggulan.
(Ong)

Posting Komentar
MEDIA MATA BIND