MEDIA MATA BIND SUMENEP - Ekspresi senyum tipis muncul dari pemimpin redaksi (Pemred) salahsatu media mainstream. Senyum tipis bukan karena geli melihat meme, bukan pula karena headline ramai klik, melainkan karena tuduhan copy paste dan pencemaran nama baik yang diarahkan kepadanya, terkait artikel berita dalam pusaran kasus amoral (skandal) yang dilakukan oknum anggota DPRD Pamekasan yang kian riuh dan liar mengumuka di ruang publik seperti bola salju menuruni bukit. Hal ini disampaikan oleh Pemred JatimNewslineid. Selasa (30/12/2025).
Menurutnya (M T A B, S.H), tuduhan itu datang dari salahsatu kuasa hukum. Profesi yang seharusnya akrab dengan satu kebiasaan sederhana, yakni membaca secara utuh sebelum menyimpulkan bahkan menuduh?
"Tampaknya dalam kasus ini, membaca isi berita terasa terlalu mewah. Judul dibaca sekilas, paragraf dilewati, konteks dilompati, lalu cling, lahirlah kesimpulan copy paste dan pencemaran nama baik," jelas M T A B, S.H.
Menurutnya, sungguh efisien, hemat waktu, minim riset. Padahal jika kuasa hukum itu dan mungkin juga timnya meluangkan waktu lima menit saja membaca isi sebuah berita, maka mereka akan menemukan sesuatu yang mengejutkan.
"Isi berita kami berbeda, sudut pandang berbeda, struktur, narasi, dan penekanan berbeda. Bahkan kehati-hatian redaksional kami (red, pimpinan redaksi) justru lebih ketat," tegasnya.
Selanjutnya kata M T A B, S.H, tapi barangkali masalahnya bukan pada isi berita. Barangkali masalahnya adalah rasa gatal menghadapi kritik.
Dalam tradisi demokrasi, pejabat publik apalagi anggota DPRD bukanlah porselen antik yang retak bila disentuh pertanyaan. Mereka adalah figur publik yang wajib siap diuji, bukan dilindungi dengan jurus lama, yakni laporkan medianya.
"Ironisnya, alih-alih menjelaskan substansi tuduhan amoral yang viral dan diperbincangkan publik, energi justru dihabiskan untuk menghitung jumlah media yang akan diadukan. Seolah-olah masalah akan selesai jika daftar media lebih panjang dari daftar klarifikasi," jelasnya.
Lebih lanjut kata M T A B, S.H, lucu lagi tuduhan copy paste diarahkan kepada media yang secara redaksional dikenal kritis, investigatif, dan ini penting berbeda narasi.
"Jika semua kritik dianggap sama hanya karena topiknya sama, maka berita korupsi cukup ditulis satu media saja, sisanya dilarang ikut meliput. Betapa sunyinya demokrasi," imbuhnya.
Dititik ini kata M T A B, S.H, selaku pimpinan redaksi tidak marah, kami hanya tersenyum tipis.
"Senyum karena sadar, bahwa ketika kritik dibalas dengan ancaman hukum tanpa membaca isi, itu bukan lagi pembelaan nama baik, melainkan pengakuan ketakutan terhadap transparansi," ujarnya.
Selain itu kata M T A B, S.H, bahwa pers tidak bekerja untuk menyenangkan kuasa hukum, melainkan untuk menyampaikan fakta, suara publik, dan kegelisahan masyarakat. Dan senyum karena yakin bahwa kebenaran tidak pernah lahir dari copy paste tuduhan, melainkan dari keberanian menghadapi substansi.
"Jika kuasa hukum ingin beradu argumen, pintu diskusi terbuka. Jika ingin klarifikasi, kolom hak jawab tersedia. Namun jika yang dipilih adalah menuduh tanpa membaca, maka maaf itu bukan strategi hukum. Itu hanya komedi yang lupa penonton sudah semakin cerdas," pungkasnya.
Karena keterbatasan akses, reporter media ini belum dapat menyajikan keterangan dan klarifikasi dari pihak-pihak terkait. Selanjutnya media ini akan melakukan penelusuran kemudian hari.
(Ong)

Posting Komentar
MEDIA MATA BIND