MMB SUMENEP - Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) menerjunkan Tim Program Penyusunan Kebijakan Inovatif Pengembangan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (WP3K) ke kabupaten Sumenep pada 3-4 September 2026 beberapa waktu lalu.
Tim kementerian PPN/Bappenas tersebut, dalam rangka melakukan kunjungan lapangan, meninjau langsung berbagai sektor sebagai bagian dari upaya memetakan kondisi sekaligus merumuskan rekomendasi kebijakan pengembangan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil (WP3K) di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur.
Kepala Bappeda Sumenep, DR. Ir. Arif Firmanto, S.TP.,M.Si.,IPU.,ASEAN Eng, mengatakan, berbagai sektor menjadi perhatian khusus dan dinilai memiliki keterkaitan langsung dengan pengembangan kawasan kepulauan, mulai dari konektivitas dan aktivitas di pelabuhan kalianget, potensi hilirisasi garam, perikanan, ketahanan pangan, layanan kesehatan, air bersih, hingga pengelolaan lingkungan.
Menurutnya, kunjungan lapangan tersebut tidak sekedar melihat kondisi infrastruktur. Tim juga berdialog dengan sejumlah pemangku kepentingan dan masyarakat untuk mendapatkan gambaran mengenai berbai persoalan sekaligus potensi yang dapat dikembangkan di wilayah pesisir dan kepulauan Sumenep.
Salah satu perhatian utama adalah sektor energi. Bersama PLN, Bappenas membahas rencana pengembangan sistem kelistrikan di pulau-pulau kecil melalui konversi Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) berbahan bakar minyak menuju Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berbasis baterai.
"Konsep tersebut diharapkan dapat menekan penggunaan bahan bakar minyak sekaligus mengurangi biaya produksi listrik, khususnya di wilayah seperti Gili Raja dan Kangean," jelas Arif Firmanto, Kepala Bappeda Sumenep, Senin (14/9/2026).
Disektor pangan, kata Arif Firmanto, Tim Bappenas juga melihat langsung berbagai aktivitas pertanian dan berdialog dengan kelompok tani di desa Braji. Selain itu, sistem penyuluhan pertanian di kecamatan Gapura serta pengembangan Kampung Nelayan Merah Putih di Batang-Batang turut menjadi bagian dari agenda kunjungan.
Sektor lain juga menjadi perhatian khusus adalah potensi garam Sumenep. Tim meninjau pengembangan hilirisasi garam di PT. Mulya Anugerah Sumekar, termasuk produksi garam konsumsi premium hingga produk bernilai tambah seperti garam SPA. Langkah hilirisasi ini dinilai penting, mengingat Sumenep memiliki potensi garam yang besar.
"Pengembangan produk turunan diharapkan tidak hanya meningkatkan nilai ekonomi komuditas, tetapi juga memberikan dampak lebih besar bagi masyarakat dan pelaku usaha lokal," ujar Arif Firmanto.
Persoalan air bersih turut dibahas dalam kunjungan tersebut. Bappenas melihat kebutuhan penguatan infrastruktur air bersih termasuk rehabilitasi jaringan perpipaan dan pembangunan sumur bor untuk mendukung kebutuhan masyarakat, khususnya di wilayah kepulauan.
Lebih lanjut, Arif Firmanto menuturkan, rangkaian kunjungan kemudian dilanjutkan dengan Audiensi bersama Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo.
"Pertemuan dengan bapak Bupati (Red, Achmad Fauzi Wongsojudo) menjadi ruang untuk menyampaikan hasil temuan di lapangan sekaligus mendiskusikan arah pengembangan wilayah pesisir dan kepulauan Sumenep," tegasnya.
Sementara itu, Ketua Tim Program Penyusuna Kebijakan Inovatif Pengembangan WP3K Bappenas, Aditya Widya Pradipta, mengatakan Sumenep, khususnya Pulau Kangean dan kawasan pesisir, menjadi salah satu lokasi utama dalam kajian nasional bersama Natuna, Sabang, dan kepulauan seribu.
Menurut Aditya, kajian tersebut mencakup lima dimensi utama, yakni transformasi ekonomi, infrastruktur dan konektivitas, ketahanan pangan, air dan energi, serta lingkungan hidup dan sosial ekonomi masyarakat.
"Bappenas menargetkan rekomendasi kebijakan pengembangan WP3K, dapat diselesaikan pada akhir Desember 2026. Hasil kajian nantinya diharapkan menjadi dasar dalam penyusunan stadart pembangunan kawasan kepulauan dan prioritas nasional," pungkasnya.
Bagi Sumenep, kajian tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat posisi wilayah kepulauan dalam agenda pembangunan, sekakagus mendorong agar potensi lokal, mulai dari garam, perikanan, pertanian, energi hingga konektivitas, dapat dikembangkan secara terintegrasi.
"Dengan demikian, kunjungan Bappenas ke Sumenep bukan hanya soal melihat kondisi di lapangan, tetapi juga menjadi bagian dari proses mencari model pembangunan yang lebih sesuai dengan karakter sumenep, sebagai daerah dengan wilayah pesisir dan kepulauan yang luas," pungkas Kepala Bappeda Sumenep, Arif Firmanto.
(Ong)


Posting Komentar
MEDIA MATA BIND