Gayung Bersambut, Direktur RSUDMA Sumenep Apresiasi Dedikasi Ahmad Maimun sebagai Mitra Strategis


MEDIA MATA BIND SUMENEP - Layaknya gayung bersambut dalam istilah pribahasa. Direktur Rumah Sakit H. Moh. Anwar (RSUDMA) Sumenep, dr. Hj. Erliyati, M.Kes, menerima langsung kunjungan sosok pemuda yang namanya kian dikenal karena dedikasinya di bidang sosial dan kesehatan. 

Ia adalah Ahmad Maimun, S.H., pemuda asal Sumenep, tanpa jabatan struktural pemerintahan mampu meringankan beban ratusan warga yang membutuhkan pertolongan medis. Dedikasi tanpa pamrih Ahmad Maimun mendapat perhatian dari manajemen RSUDMA Sumenep, Madura, Jawa Timur. Sabtu (6/2/2026)

Direktur RSUDMA Sumenep, dr. Hj. Erliyati, M.Kes menerima langsung kunjungan Ahmad Maimun dalam sebuah pertemuan yang berlangsung hangat di ruang kerjanya. Dalam pertemuan itu, dr. Hj. Erliyati menyampaikan apresiasi atas konsistensi Ahmad Maimun membantu masyarakat mengakses layanan kesehatan. 

Ia menilai kehadiran relawan seperti Ahmad Maimun menjadi mitra strategis rumah sakit dalam menjangkau warga yang membutuhkan pendampingan.

"Kami sangat berterima kasih. Semoga makin banyak pemuda yang sigap membantu sesama dalam aspek kesehatan,” ujarnya.

dr. Hj. Erliyati juga menegaskan komitmen rumah sakit untuk terus berbenah dan terbuka terhadap masukan dari masyarakat.

"Kami sangat menerima kritik dan saran karena tanpa masyarakat, kami bukan apa-apa. Kami berterima kasih karena banyak warga terbantu lewat pendampingan Mas Maimun,” pungkasnya.

Gayung bersambut, Ahmad Maimun pun menyampaikan apresiasinya terhadap kepemimpinan Direktur RSUDMA Sumenep saat ini. Ia menilai 

"Perubahan pelayanan (RSUDMA Sumenep) yang semakin baik, semakin dirasakan masyarakat. Sikap terbuka manajemen rumah sakit terhadap kritik serta saran demi peningkatan mutu layanan, juga sangat baik," tukasnya singkat.

Menelusuri kisah singkat Ahmad Maimun, dedikasinya di bidang sosial dan kesehatan.

Ahmad Maimun, S.H., seorang pemuda asal Sumenep yang tanpa jabatan struktural pemerintahan mampu meringankan beban ratusan warga yang membutuhkan pertolongan medis.

Ahmad Maimun bukan berasal dari keluarga berada. Ia tumbuh dari keluarga petani sederhana di lingkungan agraris yang menanamkan nilai kerja keras, ketulusan, dan kepedulian sejak dini. Nilai-nilai itulah yang kini menjelma menjadi aksi nyata dalam bentuk pendampingan kesehatan bagi masyarakat yang membutuhkan.

Dibalik aktivitas kemanusiaannya, Ahmad Maimun memiliki kesibukan profesional yang tak kalah padat. Ia tercatat sebagai advokat magang di kantor hukum A. Effendi & Rekan. 

Namun, kesibukan di dunia hukum tidak mengurangi komitmennya untuk tetap siaga membantu warga. Panggilan darurat kerap datang di luar jam kerja, bahkan larut malam. Warga mengenalnya sebagai sosok yang tidak mengenal jam tidur. 

Saat kebanyakan orang beristirahat, Ahmad Maimun justru kerap mengantar pasien kritis ke rumah sakit, mendampingi proses administrasi, hingga menunggu tindakan medis selesai. Tak jarang, ia harus bermalam di rumah sakit demi memastikan pasien yang didampinginya mendapat penanganan maksimal.

Fokus bantuannya mencakup berbagai kebutuhan medis, mulai dari pemeriksaan mata, penanganan benjolan, gondok, hernia, hingga ambeien. Ia bahkan turut mengawal proses operasi pasien sampai tuntas.

"Siapapun yang butuh saya, saya akan bantu proses pemeriksaan itu tanpa melihat dia orang mana," ujar Maimun menegaskan prinsip kemanusiaan yang Ia pegang.

Menurutnya, prinsip tersebut membuat pengabdiannya tida terbatas pada satu wilayah atau kelompok tertentu. Kebutuhan medis adalah urusan kemanusiaan yang melampaui sekat identitas. Rasa haru kerap datang dari keluarga pasien yang ia bantu.

"Kamu bukan kepala desa..Nak. Juga bukan aparat, tapi kamu mau membantu kami tanpa pamrih," ungkap salah satu keluarga pasien yang pernah dibantunya.

Kisah Ahmad Maimun ini menjadi pengingat bahwa kepahlawanan sosial tidak selalu lahir dari jabatan atau kewenangan formal. Di tengah langkahnya meniti karier sebagai calon pengacara, ia tetap menyisihkan waktu, tenaga, dan hatinya untuk warga yang kesulitan mendapatkan akses kesehatan.

Di mata masyarakat, Maimun bukan sekadar relawan. Ia adalah simbol kepedulian seorang malaikat tak bersayap yang hadir ketika warga paling membutuhkan bantuan.

(Ong)

Post a Comment

MEDIA MATA BIND

Lebih baru Lebih lama